Pengalaman Bergabung di Madyapadma Journalistic Park

                     

"
Aduh pilih itu atau ini ya?"

"Kalo ini gimana ya?"

"Takut banget kalo ini, serius banget kayanya"

Pertanyaan itu pernah menghantui saya berminggu-minggu ketika saya  menjadi siswa baru di SMAN 3 Denpasar. Sebuah pertanyaan yang ditanyakan langsung oleh hati dan pikiran itu muncul lumayan lama.  Dengan penuh perhitungan yang matang, saya memantapkan diri untuk memilih esktrakurikuler Madyapadma Journalistic Park sebagai wadah untuk menyalurkan minat dan bakat saya.

-----------------------------------------------------------

Saya masih ingat, ketika  kakak-kakak senior melakukan orasi ekstrakurikuler pada masa MPLS. Ada ekstrakurikuler yang sangat menarik perhatian saya. Mereka yang berbicara di depan dan berdiri di sisi ruangan terlihat sangat bersahabat, menebar senyum kepada kami, para siswa baru. Kakak-kakak itu menjelaskan apa itu Madyapadma hingga seluk beluk Madyapadma sedikit lebih dalam. Saya sangat kagum, ternyata Madyapadma Journalistic Park atau yang lebih dikenal dengan nama MP, adalah salah satu ekstrakurikuler yang menyumbang banyak prestasi di sekolah saya tercinta.

MP rupanya tidak hanya berfokus pada bidang redaksional saja tetapi juga banyak bidang lain, seperti fotografi, perfilman, penyiaran radio, dan lain – lain. Sungguh keren, MP sebagai ekstrakurikuler jurnalistik yang sangat berbeda dari  SMA di sekolah lainnya.

Sejak SD hingga kini saya sangat menyukai pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Kalau dipikir-pikir, dunia jurnalistik pasti erat kaitannya dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Maka dari itu, saya memilih MP sebagai ekstrakurikuler yang akan saya tekuni selama saya bersekolah di TRISMA.

Sudah setahun lamanya saya sudah menjadi bagian dari Madyapadma. Ada banyak pengalaman yang sulit tuk dilupa. Pengalaman belajar mewawancarai orang  lain, membuat berita, menulis cerpen, mengerjakan tugas hingga larut malam, berjualan di pantai, mengikuti perlombaan di Kota Malang dan Surabaya dan masih banyak pengalaman lainnya. Namun, ada 2 hal yang paling saya ingat sekali. 

1. Ketika mengikuti perlombaan kepenyiaran radio di Malang, saya berangkat ke sana bersama teman saya yang berasal dari sekolah yang berbeda. Gloria namanya. Kami dipertemukan di grup line yang dibentuk oleh panitia penyelenggara lomba. Setelah berkenalan satu sama lain, kami memutuskan untuk berangkat bersama ke Malang. Dia menunggu saya di depan pintu keberangkatan domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai. Awalnya Gloria mengaku masih kelas X, tapi setelah saya melihat kartu identitasnya, rupanya dia setahun lebih tua dari saya. Saat itu dirinya sudah kelas XI. Ia mengaku seperti itu karena dia tak ingin saya merasa canggung. Bahkan setelah saya tahu bahwa ia setahun lebih tua dari saya, dia tetap menyuruh saya menyebutnya dengan panggilan nama saja, bukan dengan sebutan 'kak'. Gloria lah yang mengajari saya bagaimana tata cara naik pesawat. Kepadanya saya jujur saja kalau tidak mengerti apa-apa perihal naik pesawat. Tapi dia merasa santai saja, dia menuntun saya dengan sabar dan baik sekali. Saya sangat bersyukur dipertemukan dengannya. Dan hingga kini kami masih menjalin hubungan pertemanan.

2. Ketika  itu saya menjadi peserta lomba di Communiphoria. Saat jam ISHOMA tiba, saya dan teman saya yang sama-sama dari Bali (tetapi beda sekolah), menuju masjid yang diantarkan oleh kakak panitia perlombaan. Karena waktu itu jam sholat jumat, saya menunggu di luar masjid. Saya bingung harus sholat dzuhur dimana, karena kalau saya menunggu para jamaah laki-laki keluar dari masjid, itu cukup lama dan khawatir akan membuat kakak panitia yang mengantar kami  menunggu lebih lama lagi. 
Akhirnya, saya memberanikan diri memasuki halaman yayasan yang maaf saya lupa apa namanya. Saya diizinkan oleh nenek-nenek yang bekerja di sana untuk menunaikan sholat dzuhur di kamar nenek itu. Nenek itu juga menawarkan saya  segelas air putih dan kami pun ngobrol santai  bersama. 
Seusai saya sholat, nenek itu mendoakan saya agar saya sehat selalu, urusannya dimudahkan, dan sukses ke depannya. Saya sangat terharu dan bahagia bertemu dengan nenek yang satu ini. Beliau ini sangat baik sekali. Padahal, kami baru saja bertemu dan berkenalan. 

Saya merasa senang dan bahagia menjadi bagian dari MP. Dari MP lah saya  belajar mengembangkan rasa percaya diri, membangun relasi dengan orang lain, belajar saling menghormati, menghargai, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dari MP pula saya bisa menemukan orang-orang baik di muka bumi ini. Terima kasih Madyapadma. 💗



Komentar